Wednesday, June 16, 2010

●Belajar dari kelima jari tangan●●

"Sesungguhnya dalam penciptan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran ALLAH) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Rabbana, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka""

Pelajaran ini ALLAH Berikan melalui salah seorang ustadz dalam suatu daerah….


Coba lihat kedua tangan kita. Bersyukurlah ketika kita masih memilikinya. Coba lihat kelima jari di masing-masing tangan kita. Bersyukurlah ketika kita masih memilikinya.


Tahukah sahabat, ternyata kelima jari itu mengandung banyak hikmah yang bisa menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga.


Jempol atau ibu jari, mewakili POTENSI. Biasanya kita mengacungkan jempol sebagai tanda untuk menilai suatu kelebihan, kebaikan, kecakapan, atau hal lain yang dianggap pantas ‘diacungi jempol’. Ibu jari ini mengingatkan kita betapa pentingnya mengembangkan potensi di dalam diri kita. Teruslah memperbaiki dan mengembangkan diri sehingga kita memiliki potensi yang bermanfaat bagi umat dan pantas ‘diacungi jempol’.


Jari telunjuk, mewakili ARAH. Biasanya kita menggunakan telunjuk untuk menunjukkan suatu arah. Begitupun dalam hidup kita, telunjuk mengingatkan kita untuk selalu memiliki arah, visi, tujuan yang ingin kita capai. Tentukan tujuan hidup kita. Visualisasikan mimpi yang ingin kita gapai dengan jelas. Fokuslah pada arah atau tujuan hidup kita.


Jari tengah, mewakili KESEIMBANGAN. Jari tengah ini merupakan jari yang berada di tengah dan memiliki tugas untuk menyeimbangkan kedua jari yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Jari tengah mengingatkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan dalam hidup. Keseimbangan antara jasad, akal, dan ruh. Keseimbangan antara makanan, minuman, dan udara. Keseimbangan antara tugas kita sebagai abid dan sebagai khalifah. Keseimbangan antara belajar dan beramal. Keseimbangan antara takut dan harap. Keseimbangan antara dunia dan akhirat.


Jari manis, mewakili RELASI. Entah darimana asalnya mengapa jari ini disebut jari manis. Mungkin karena jari ini menjadi salah satu bagian tubuh yang digunakan untuk memasangkan simbol sebuah relasi, seperti pernikahan. Jari manis mengingatkan kita untuk selalu menjaga silaturahim dengan orang-orang di sekitar kita. Perbanyaklah silaturahim, jagalah silaturahim, sambunglah kembali silaturahim.


Jari kelingking, mewakili KEHATI-HATIAN. Mungkin karena jari ini berukuran paling kecil di antara keempat jari lain, maka jari ini terkadang sering diabaikan. Padahal tidak ada hal sekecil apapun yang sia-sia. Jari kelingking mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati terhadap sesuatu yang kita anggap remeh. Bisa jadi hal yang kecil menjadi suatu masalah yang besar bila kita kurang hati-hati dalam bersikap. Bukankah taqwa itu seperti berjalan di atas jalan berduri. Berhati-hatilah dalam melangkah…


Subhanallah banyak sinergitas yang bisa kita dapat ketika kelima jari ini kita gabungkan. Coba gabungkan kelima jari kita. Kepalkan di udara lalu berteriaklah, SEMANGAT !!!


Ya RABB, sungguh Engkau tidak Menciptakan ini dengan sia-sia…

●●Jangan SOK TAU●●

i sebuah perjalanan yang melelahkan, seorang sahabat di masa Rasulullah mengalami kecelakaan. Kepalanya tertimpa batu, Darah mengucur dari luka yang sangat serius.

Perjalanan tetap dilanjutkan. Hingga malam datang menjelang. Jabir, salah seorang pengisah cerita itu menuturkan, bahwa mereka kemudian tidur pada malam yang sangat dingin itu, Keesokan harinya, lelaki yang terluka itu bangun. Rupanya semalam ia bermimpi yang menyebabkan ia harus mandi besar. Segera ia bertanya kepada kawan-kawannya, adakah ia punya keringanan untuk bertayamum saja karena luka menganga di kepalanya?

Orang-orang menjelaskan, “Tidak ada keringanan bagi engkau, selama engkau bisa mendapatkan air.”

Maka lelaki yang terluka itu pun mandi. Ia siram seluruh badannya, tak terkecuali kepalanya yang terluka. Karena mandi besar memang harus menyiram seluruh anggota badan. Ternyata luka parah di kepalanya yang tersiram air itu, mengantarkannya menemui ajal. Lelaki itu meninggal dan pergi untuk selama-lamanya.

Sekembali ke Madinah, Jabir mengisahkan kematian lelaki itu kepada Rasulullah. Juga tentang orang-orang yang memberi jawaban bahwa ia harus tetap mandi dengan alasan masih bisa mendapatkan air.

Rasulullah marah besar. Bahkan sangat marah. “Mereka telah membunuh orang itu. Semoga Allah membinasakan mereka,” begitu reaksi Rasulullah, Lalu ia melanjutkan, “Mengapa orang-orang itu tidak mau bertanya kalau memang tidak tahu, karena sesungguhnya penawar kebodohan itu adalah bertanya. Padahal semestinya lelaki itu cukup bertayamum, dan membungkus bagian lukanya dengan alas yang keras, lalu mengusap diatasnya dengan air. Baru kemudian menyiram dan membasahi sisa anggota badannya."

Sebuah kematian memang punya waktu dan tempatnya. Juga caranya yang berbeda-beda. Ini takdir yang sudah tertitah pasti. Tetapi kemarahan Rasulullah yang sangat pada kasus di atas, menunjukkan betapa tindakan ceroboh yang menyebabkan kematian orang lain, tetaplah kesalahan. Dan, itu layak mendapat kecaman.

Secara alur sebab akibat, banyak kejadian penting dalam hidup ini bermula dari sebuah keputusan ‘sok tahu’ kita. Padahal kejadian itu menjadi menyejarah di kemudian waktu, baik maupun buruk, salah maupun benar. Dan, kata kunci dari segala keputusan kita meski sederhana adalah sebatas mana pengetahuan kita tentang apa dan mengapa kita membuat keputusan itu.

Orang-orang itu merasa tahu bahwa lelaki yang luka kepalanya itu harus mandi. Sebuah pengetahuan yang salah dan terbatas. Lalu mereka bersikap, bahwa tak ada keringanan untuk tidak mandi. Dan, sebuah sikap merasa tahu telah menyebabkan kematian yang mengenaskan. Kematian yang menyejarah, ditulis dalam beribu buku, dikaji dari berbagai sudut pandang, hingga saat ini.

Kajian terpenting dari kasus ini, ialah bahwa hidup tidak menyisakan banyak area untuk pengetahuan yang abu-abu, remang-remang atau setengah-setengah. Sebab hidup harus berjalan dengan mekanisme yang pasti. Karena-nya, pengetahuan yang setengah-setengah, sulit bisa dipakai untuk landasan sebuah tatanan hidup, Ia juga tidak akan banyak menyelasaikan masalah, justru bisa menjadi sumber masalah. Tetapi lebih buruk dari tidak tahu adalah bersikap ‘sok tahu’ yang bahasa gaulnya disebut sotoy. Karena sikap ’sok tahu’ hampir selalu menjadi sumber bencana.

Dalam pengertian seperti ini, kita memahami, mengapa Rasulullah, secara lebih tegas, dalam kesempatan lain, mengatakan, “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Hidup ini harus ditata dengan keahlian. Sedang induk keahlian adalah pengetahuan. Orang-orang yang tidak tahu dalam suatu urusan, tidak boleh merasa tahu. Meski pada saat yang sama ia juga harus terus meningkatkan pengetahuannya.

Bersikap ’sok tahu’, secara moral mengandung unsur ‘pengkhianatan’. Ini mungkin terlalu kejam. Tapi begitulah kenyataannya. Pengkhianatan terhadap diri sendiri. Pengkhianatan terhadap kapasitas yang sesungguhnya kita miliki. Juga pengkhianatan kepada pada korban yang meyakini bahwa kita tahu. Akan ada manipulasi yang mengerikan dari segala sikap ’sok tahu’ dari siapa saja, padahal dirinya tidak-mengerti. Karenanya sangat beralasan mengapa Rasulullah begitu marah kepada orang-orang itu. Kecaman Rasulullah, juga ungkapannya, ‘Semoga Allah membinasakan mereka’ adalah refleksi mendalam betapa seriusnya permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh orang-orang yang ’sok tahu’. Seserius penjelasannya tentang urusan yang akan hancur bila ditangani bukan oleh ahlinya.

Ini harus menjadi perhatian siapapun. Prinsip ini juga berlaku dalam segala sisi kehidupan dan dalam segala disiplin pengetahuan. Setiap kecerobohan akan melahirkan bencana. Dalam bidang syari’at Islam, orang-orang yang ’sok tahu’ dan dengan mudah mengumbar fatwa halal haram, bisa menyebabkan terjerumusnya orang lain kepada kesalahan ideologis dan hukum yang sangat fatal.

Karenannya, para ulama salaf mencela sebagian ahli ilmu di zamannya yang tergesa-gesa menetapkan fatwa tanpa pertimbangan yang matang dan meyakinkan. "Sesungguhnya seorang di antara kalian memberikan fatwa tentang suatu masalah yang andaikata disampaikan kepada Umar tentu ia mengumpulkan ahli Badar untuk itu." Sebagian yang lain mengatakan, "Orang yang paling berani berfatwa di antara kalian adalah orang yang paling berani masuk neraka."

Pada jaman yang terus berkembang, 3 penyakit merasa tahu punya tempat salurannya yang luar biasa. Seperti dunia pengamat dan dunia politisi, misalnya. Karena untuk dua profesi ini, pengetahuan, dalam batas tertentu, cukup diwadahi dengan ucapan dan retorika bicara.

Padahal hidup adalah dunia nyata, bukan dunia omongan yang berbusa-busa. Disinilah mengapa, orang yang pandai bicara belum tentu pandai bekerja. Karena pengetahuan, akan menemukan pembenarannya di alam yang sesungguhnya: alam kerja nyata.

Dalam sisi kehidupan lain yang lebih berdimensi sosial, kecerobohan dan sikap ’sok tahu’ bisa membunuh tidak saja satu orang yang luka kepalanya. Seperti sebuah definisi yang salah tentang terorisme, dari orang-orang kerdil dan sok tahu, misalnya, telah membunuh ribuan orang diberbagai belahan dunia, serta mengebiri jutaan lainnya. Sementara, di tempat yang lain, orang harus berjibaku dengan nasibnya yang gelap, akibat ulah orang-orang hidup dengan pengetahuan dan keahlian yang ‘ala kadarnya’.

Di tempat lain, sikap sok tahu mendapatkan ramuan penghancur terhebatnya, ketika ia bertemu dengan kekuasaan. Maka penguasa-penguasa yang bodoh, dalam level kekuasaan sekecil apapun akan cenderung otoriter dan ’sok tahu’. Karena itu merupakan cara utama untuk menutupi kedunguannya.

Dalam konteks keimanan, bila Allah mengaitkan kapasitas pengetahuan dan ilmu seseorang dengan kemampuan untuk takut kepada-Nya, maka sudah barang tentu kebalikannya, orang-orang yang bodoh dan miskin pengetahuan, berpeluang besar melakukan dosa dan maksiat kepada-Nya. Terlebih bila mereka bersikap pura-pura tahu atau merasa tahu.

Ibnu Qoyyim berkata, "Dosa itu dipagari oleh dua kebodohan. Bodoh terhadap hakikat sebab-sebab yang bisa memalingkannya, dan bodoh akan hakikat kerusakan yang diakibatkannya. Dari tiap kebodohan itu di bawahnya terdapat kebodohan-kebodohan yang banyak. Maka, Allah tidak dimaksiati kecuali dengan kebodohan dan tidak ditaati kecuali dengan ilmu."

Tidaklah aib berkata tidak tahu. Suatu hari, Masruq dan beberapa orang lainnya masuk ke rumah Abdullah bin Mas’ud. Kepada mereka Abdullah bin Mas’ud berkata, "Wahai umat manusia, Sesiapa yang mengetahui tentang suatu perkara, hendaklah ia menerangkannya. Dan sesiapa yang tidak mengetahuinya maka hendaklah dia berkata, ‘Allah lebih mengetahui.’ Kerana berkata demikian itu (Allah lebih mengetahui) tentang sesuatu perkara yang tidak diketahui adalah termasuk dari ilmu."

Orang-orang yang ’sok tahu’ tidak akan sama dengan orang-orang yang tidak tahu, meski keduanya sama sama tidak tahu. Perbedaan utamanya seringkali terletak pada bencana yang diakibatkannya. Hidup memang makin membutuhkan keahlian spesial. Tetapi jujur atas ketidaktahuan adalah pelengkap yang harus diambil dari segala keahlian. Tidaklah aib berkata tidak tahu. Ini bukan sekadar sudut pandang moral, tapi juga bagian penting dari menjauhi bencana dan menghindari malapetaka. Agar tidak ada orang yang mati begitu saja, hanya karena ulah orang-orang yang ’sok tahu’. Agar juga tak ada yang terlunta-lunta dalam sengsara, karena kecerobohan orang-orang yang tak mengerti apa-apa tapi merasa tahu segala-galanya.

Jangan sok tahu. Dan, jangan sotoy.

●Antara MATA dan HATI●●

”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang". Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, "Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api."

Hampir sama dengan bunyi sya’ir tersebut, sebagian salafushalih mengatakan, "Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah."


Saudaraku,
Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.

Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. "Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai," jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan.

Saudaraku,
Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: "Kata hati kepada mata, "kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya". Kau salahi sabda Rasulullah saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya." (HR.Ahmad)

Tapi mata berkata kepada hati, "Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati " (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, "Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.AI-Hajj:46)

Saudaraku,
Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. "Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati.

Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang bermanfaat, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang "nur", cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 215-217)

Saudaraku,
Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt, "Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ". (QS. Al-mukmin:l9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan ilmuLlah (pengetahuan Allah) . Pemeliharaan mata dan hati, bisa identik dengan tingkat keimanan seseorang.

Saudaraku,
Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak . Bahkan Rasul menyebutnya, kebaikan itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah swt tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang berterbangan. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperi itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Allah (HR. Ibnu Majah)

Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain, "Hendaklah engaku menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu". Begitu pesan Rasulullah saw. Wallahu’alam.

●●Surat Untuk UKHTI●●


(Di bawah ini adalah surat terbuka dari seorang ikhwan di negeri Pangeran Charles, ditujukan kepada seluruh muslimah yang peduli terhadap nasib umat)

Tulisan ini tidak menyamaratakan semua muslimah. Saya sadar masih banyak muslimah shalihah di luar sana yang kedekatannya dengan Allah tak perlu diragukan lagi. Sebagai seorang muslim, saya pun menyadari bahwa diri ini masih jauh dari sempurna.

Namun izinkanlah saya menulis ditujukan kepada siapa pun yang berkepentingan dengan isi surat ini,

Ya Ukhti,
Mengapa kau katakan “Aku tak bisa memakai kerudung atau jilbab karena aku takut orang akan memandangiku karena gaya berpakaianku”?

Tetapi mengapa kau malah pergi keluar rumah setengah telanjang atau hanya memakai baju ketat, terlihat murahan, dan bahkan ada 1000 laki-laki yang memandangmu serta seluruh bagian tubuhmu yang harusnya kau tutup rapat? Bagaimana mungkin hal ini tidak membuatmu risih?

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Hal yang paling tidak kusukai adalah apabila ada laki-laki yang memandangiku dan aku pun juga tidak suka memandang mereka.”
Cobalah renungkan! Apakah jauh lebih baik terlihat murah seperti seonggok daging berjalan sebagaimana dilakukan oleh wanita-wanita non muslim? Ataukah jauh lebih baik terlihat berbeda, suci, shalihah, dan terhormat dengan memakai kerudung dan jilbab?

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Hal yang paling tidak kusukai adalah apabila ada laki-laki yang memandangiku dan aku pun juga tidak suka memandang mereka.”

Ya ukhti…
Mengapa kau suka bergunjing tentang saudara-saudaramu sesama muslim selama berjam-jam tanpa lelah? Tapi mengapa ketika waktunya mengkaji Islam, beribadah dan beramal shalih, tiba-tiba engkau terdiam, canggung, enggan dan malas?

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “bergunjing itu seperti memakan daging saudara sendiri.”

Ya ukhti,
Mengapa di zaman Rasulullah dan para sahabat dulu, banyak perempuan cerdas dan shalehah yang mampu mendidik anak-anaknya untuk mengenal Tuhannya, mencintai Nabinya serta menjadikan mereka generasi-generasi muslim yang tangguh?

Tetapi mengapa sekarang sulit sekali menemukan sosok perempuan sekualitas itu? Mengapa yang ada sekarang adalah sosok perempuan yang mengarahkan anak-anaknya ke jalan haram semisal pamer aurat, berdansa-dansi dengan non mahrom dan kemaksiatan lainnya?
Mengapa saat ini sulit sekali menemukan sesosok ibu yang bisa menanamkan keimanan pada anak-anaknya, taat beribadah dan menjadi generasi berkualitas?

Ya Allah….tolonglah kami…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan, “Wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikan, kekayaan, keturunan dan agama. Pilihlah karena agamanya maka kamu akan beruntung.”

Allah pun berfirman, “Jika kamu tidak menyembah dan taat pada-Ku, maka Aku akan menggantinya dengan sekelompok orang yang mereka itu cinta dan taat pada-Ku dan Aku pun mencintai mereka.”

(Ya ukhti, dekatilah para wanita yang masih belum paham Islam dan ajaklah mereka untuk memahami dien Islam ini karena dari merekalah nantinya akan lahir generasi-generasi penerus risalah dien yang mulia ini. Anakmu akan berinteraksi dengan anak mereka, begitu pun sebaliknya, anak mereka akan berinteraksi dengan anak-anakmu. Dan buatlah interaksi yang terjadi itu berdasarkan Islam dan syariatnya)

Semoga ridho Allah selalu menyertaimu.

Thursday, June 10, 2010

Ruang Hati

Lalu jiwa pagi basah. Tersiram pecahan kristal puisi burung penari. Terkurung terpantul-pantul di kanal telinga. Menggetarkan selaput. Tersapu tulang ke tingkap jorong. Meluncur meliuk-liuk di rumah siput dan tenggelam di dalam cairan. Bermetamorfosis menjadi sinyal-sinyal elektrik. Bergerak secepat kilat menembus ruang gelap serebrum. Mencipta persepsi. Dan aku mendengar kicau riang di pucuk-pucuk ranting. Menggema di celah-celah rongga udara. Membangunkan setiap jiwa culas tertidur berselimut urine setan.
Mentari pun perlahan terus menghujani bumi dengan partikel foton. Buah dari reaksi fusi dengan panas hingga 14 juta derajat celcius. Penggabungan rasa cinta hidrogen menjadi helium. Menyebarkan gelombang tampak. Sehingga mata mampu menyingkap materi. Hilang sudah gelap. Gelap di bumi. Gelap di hati. Lalu aku berjalan memanjakan raga. Menghirup udara segar. Mengucap syukur. Meyunggingkan senyum. Mengulum sapa. Mencipta tekad untuk memulai hari penuh semangat.
Sesuap waktu berlalu. Tak terasa surya sudah setinggi tombak. Tiba saatnya membeli tiket istana surga yang dikelilingi peri bermata jeli. Shalat dluha. Membangun istana setahap demi setahap. Rakaat demi rakaat. Setiap pagi setiap hari.
“Masjid yang indah!” Gumamku dalam hati saat aku berdiri di depannya. Meski bukan kali pertama aku melihat. Tapi tetap megah terkesan. Kokoh berdiri mendekap ruang tiga lantai. Sayap kanan kiri berhiaskan ornamen gaya khas tradisi masa silam. Tepat di depan pintu melekat ukiran kaligrafi yang setia menyambut siapa saja yang menapakkan kaki di altar suci. Untuk memenuhi panggilan Ilahi, mengkaji ilmu agama, atau hanya sekadar melepas lelah karena tamparan keras terik mentari siang hari.
Wajah dan mahkota kepalaku basah terbasuh air wudlu. Lalu melangkah setenang jiwa yang tercelup cahaya Ilahiah. Ku pijakkan kaki ke tangga setingkat-tingkat. Membuka pintu rakhmat. Menabur sua dengan sang pencipta. Namun belum sempat melayangkan takbir pembuka, hatiku tersedu. Rintihan jiwa sesal terdengar jelas di kanal telinga. Suara tangis merapatkan udara ruang lantai dua.
“Subhanallah…” pujiku.
“Awal yang indah bagi siapa saja yang menyesal atas dosa. Menghiba, meratap, meminta maaf, mengakui salah. Dan berjanji tidak akan mengulang kali kedua.” kataku dalam hati lantaran tangis dari lantai tiga tempat shalat putri, terdengar demikian jelas. Yang memaksaku membuat kesimpulan betapa bahagia setiap jiwa yang bertaubat.
Kulayangkan takbir pembuka. Meresapi ayat demi ayat. Tenggelam dalam magma dingin. Membuka tabir dan memecahkan dinding penghalang. Berselancar menuju dimensi spiritualitas tanpa batas. Alam rububiyah. Raga bergetar setiap kali otak menangkap makna bibir berucap. Sejuk mengalir dari palung hati hingga kulit ari. Lalu terasa seringan awan. Melayang.
“Assalamualaikum warahmatullah…” usai shalatku.
Isak tangis kembali menggetarkan selaput telingaku. Kali ini ada yang janggal. Aku semakin tidak yakin. Ragu dengan kesimpulan awalku. Sesekali meluap kata tolong. Tapi aku tetap duduk. Melantunkan dzikir. Tapi tetap tidak bisa menikmati setiap lantunan puji dari lisanku karena isak tangis kian keras menggedor-gedor telinga bahkan jiwaku. Aku semakin penasaran. Khawatir. Bertanya-tanya apa yang terjadi di lantai tiga? Apa yang menyebabkan seseorang yang tidak aku tahu itu terus menangis? Lalu tanpa pikir panjang aku segera beranjak dari tempat simpuh. Meluncur ke lantai satu. Sebab lantai tiga hanya bisa diakses dari lantai satu. Dan hanya ada satu tangga. Aku berlari ke tangga yang menuju lantai tiga. Namun langkahku terhenti saat mencapai setengah tangga. Seekor ular kecil sedang asyik melilitkan badannya di bibir tangga. Menjulur-julurkan lidahnya. Terus merayap ke atas. Sedang di ujung tangga tampak anak puteri meringkuk ketakutan menangis terisak-isak. Aku pun kebingungan. Tapi syukurlah tepat ketika aku akan pergi dua orang takmir masjid datang. Masing-masing membawa tongkat. Lalu mereka melakukan apa yang mestinya mereka lakukan.

Lalu aku termenung. Kenapa ia begitu takut? Kenapa ia harus menangis? Bukankah itu hanya seekor ular kecil? Dan saya yakin bahwa hari itu bukan kali pertama ia melihat ular! Terlalu mengada-ada memang, kalau hal seperti itu dipikirkan. Tapi aku berkeyakinan bahwa setiap peristiwa dalam rentang waktu pasti ada sesuatu yang bisa dipetik hikmahnya.
Aku berhipotesa, bahwa yang menyebabkan anak puteri itu takut bukan karena ular semata. Tapi karena ia berada di ruang yang relatif sempit dan tidak ada jalan lain yang bisa dilalui agar terhindar dari gangguan ular. Ya, saya kira itulah penyebab utamanya. Sebab seandainya ia berada di luar masjid pasti ia tidak akan takut. Apalagi harus menangis. Sebab ia bisa segera menghindar dan lari.
Aku memetik hikmah. Buah dari pohon peristiwa dalam rentang waktu sesaat. Aku basah oleh sastra kehidupan. Aku senang sebab aku menemukan analogi ruang hati. Ya, ruang hati. Sebuah gumpalan darah yang menyimpan kedalaman jiwa. Yang tersembunyi dan tak tersentuh panca indera. Tempat setiap urusan manusia. Semua tersimpan di sana.
Ruang hati. Yang jika senang ia akan berhiaskan bunga-bunga, berpayung pelangi, berlantaikan permadani, beraroma kasturi, dan berselimutkan kehangatan. Tapi jika sedih ia dipayungi awan gelap hitam, berasa masam, beralas duri, dan berdekap dingin. Begitulah kira-kira. Semua tergantung pada suasana hati. Seberapa bahagiakah hati, itu yang akan menentukan seberapa bahagia raga yang membungkusnya.
Lalu apa yang menentukan kebahagiaan hati? Banyak. Salah satunya adalah seberapa besar volume ruang hati seseorang. Semakin besar ukuran volumenya, maka akan semakin besar peluang ia merasakan kebahagiaan. Mengapa? Karena ruang hati yang besar akan menjadikan setiap masalah yang tersimpan di dalamnya relatif lebih kecil. Sedangkan hati yang sempit akan menjadikan setiap masalah akan tampak relatif besar. Seperti kisah anak puteri tadi. Ia takut sebenarnya bukan semata karena ular kecil yang menghadang langkah kakinya. Tapi juga karena ruang tempat ia berada relatif kecil. Maka itu jika kita menginginkan kebahagiaan. Kita bisa mulai dengan belajar memiliki hati yang lapang, sehinnga masalah sebesar apapun akan menjadi kecil.
Ruang hati. Beruntunglah orang yang memiliki ruang hati yang besar. Sebab ia tidak mempunyai rasa negatif kepada orang lain. Benci, iri, cemburu, atau dendam. Bagaimana ia bisa membenci? Sedang ia tidak mempunyai alasan untuk membenci. Bagaimana ia bisa iri dan cemburu? Sementara keinginan itu sangatah kecil dan tersimpan jauh di sudut hati. Bagaimana ia punya keinginan membalas dendam? Sebab ia tidak pernah merasa tersakiti. Begitulah ruang hati. Semakin besar, akan semakin mudah kita bisa bahagia. Semoga.

Catatan أحمد مهيمن

Tuesday, June 1, 2010

astaghfirullah ................

Ketika kau mencintai seseorang karena kecantikan atau ketampanannya,
Tidakkah kau tahu bahwa siapa yang telah menciptakan rupa itu ???? (renungkanlah)

Ketika kau Jatuh hati kepada seseorang yang sholeh atau sholeha.
Tidakkah kau tahu bahwa siapa yang telah menuntun hati seseorang yang cendrung akan kebaikan (Yang Maha Baik) itu ???? (tanyakan dengan hati mu)

ketika kau jatuh hati kepada seseorang karena kegagahan, popularitas, prestasi, dan kehebatannya.
apakah kau tau siapa yang maha perkasa itu????

Ketika kau tertarik kepada seseorang yang banyak hartanya.
Tidakkah kau tau siapa zat Maha Pemberi Rezeki itu??? (tanyakan dengan hatimu)

Ketika kau menyukai seseorang karena kepintaran.
Tidakkah kau pernah tau siapa yang Maha Pencipta Itu ???? (renungkanlah hadirkan hatimu)

lalu ketika kau menyukaii makhluk dibumi ini siapa sesungguhnya yg engkau cintai itu? siapa yang menanamkan rasa cinta , kasih sayang, rindu, suka senang di hatimu siapa yang menciptakan itu semua (renungkanlah)

Tolong jawab dengan jujur siapa yang paling engkau cintai?
(Ibu, Ayahmu, adikmu, PacarMu, Anakmu jabatanmu atau Allah) jika bukan Allah beristigfarlah.....

engaku rela mengorbankan waktu, hartamu jiwamu bahkan nyawamu untuk mereka BUKAN? tapi untuk Allah ?????

lalu apa yang engkau persembahkan untuk Allah ???? Allahuakbar 3x... (Ampuni kami ya Allah)

tidakkah kau tahu mengapa hidup kita kita sering merasa kecewa, gelisah, sakit hati, dan tidak merasa bahagia ?????

kau lebih mementingkan kepentingan duniamu dari pada urusan dengan ALLAH BUKAN???

sahabat.....
engkau gelisah bila tak ada yang menemani mu..
engkau takut bila ditinggalkan oleh orang tuamu.
engkau tak bisa hidup tanpa hartamu..
engkau marah bila dijauhkan oleh teman2 mu
engkau sedih bila diputus oleh pacarmu
engaku sibuk dengan urusan duniamu..
tapi..
bagaimana sikapmu kepada Allah....???

engkau ingin suami sholeh atau istri sholeh ?
Engkau ingin pasangan yg tampan, cantik, baik, pintar, hebat?
engkau ingin kemudahan, kesenangan?
engkau ingin harta dunia, jabatan tinggi?
engkau ingin di cintai , di hargai orang lain ?
engkau ingin sukses dunia bahagia?

jawabbbbbbbbbbbbbbbbb dengan hati mu.............................

Apakah kau pernah berfikir tentang hal ini?

Siapa yang akan mengabulkan keinginan itu semua ????
lalu apakah kau sungguh2 berdoa kepadanya?
apakah engkau pernah menangis karena takut kepadanya?
apakah engkau pernah bersujud khusu' kepadanya?

SUBHANALLAH, ALLHAMDULILLAH, ALLAHUAKBAR................